DASAR HUKUM QURBAN

Ritual ibadah qurban adalah ritual ibadah dalam agama Islam yang Allah  perintahkan kepada ummat nabi Muhammad berdasarkan sejarah qurban Nabi Ibrahim terhadap anaknya Ismail yang kemudian Allah  gantikan dengan seekor gibas. Hewan yang dijadikan qurban tidak semua jenis hewan, melainkan beberapa jenis saja seperti unta, sapi, dan kambing atau domba. Pelaksanaan ibadah qurban harus diniatkan dalam rangka taat dan menjalankan perintah Allah , bukan untuk tujuan lainnya. Allah  berfirman dalam surat Al – Kautsar ayat 1-2 yang menjadi dasar syariat penyembelihan hewan qurban: Artinya : “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.”
Ibnu Jarir dalam kitab tafsirnya telah menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut : “jadikanlah shalatmu ikhlas hanya untuk Allah  semata dengan sama sekali tidak mengharapkan kepada selain daripada-Nya.demikian juga qurban yang kamu laksanakan, niatkanlah hanya untuk Allah , tidak untuk berhala-berhala, sebagai realisasi syukur atas apa yang telah dianugerahkan Allah  kepadamu yang tak terhitung banyaknya.”
Para ulama telah berbeda pendapat dalam menentukan hukum penyembelihan hewan qurban. Setidaknya ada dua pendapat mengenai hukum penyembelihan hewan qurban:
1. Sunnah Muakkadah
Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Dengan hukum ini, walaupun seseorang tidak menyembelih hewan qurban, maka ia tidak berdosa. Apalagi mereka yang tergolong tidak mampu dan miskin. Namun bagi orang yang mampu dan berkecukupan, makruh hukumnya bila tidak menyembelih hewan qurban. Pendapat jumhur ulama yang menyatakan bahwa hukum penyembelihan hewan qurban adalah sunnah muakkadah berdasarkan beberapa dalil berikut ini :
- Rosulullah telah bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Muslim dan lainnya : “bila telah memasuki 10 (hari bulan dzulhijjah) dan seseorang ingin berqurban, maka janganlah ia ganggu rambut qurban dan kuku-kukunya.”
Berdasarkan hadits tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa kalimat “seseorang ingin berqurban” menunjukan bahwa hukum berqurban diserahkan kepada kemauan seseorang, artinya tidak menjadi wajib melainkan sunnah. Seandainya hukumnya wajib, maka tidak akan disebutkan kalau berkeinginan
- Perbuatan Abu Bakar dan Umar. Dalil lainnya adalah atsar  yang diriwayatkan bahwa Abu Bakar dan Umar tidak melaksanakan penyembelihan hewan qurban dalam satu atau dua tahun, karena takut dianggap menjadi kewajiban. Dan hal itu tidak mendapatkan penentangan dari para sahabat yang lainnya. Atsar ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi.
2. Wajib
Pendapat yang kedua menyatakan wajibnya menyembelih hewan qurban. Pendapat ini adalah pendapat madzhab Hanafi berdasarkan dalil sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah bahwasanya Rosulullah SAW bersabda : “Siapa yang memiliki kelapangan tapi tidak menyembelih qurban, janganlah mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim menshahihkannya).     
Itulah dua pendapat yang telah dikemukakan beserta dalil-dalilnya. Adapun tentang ketentuan batasan qurban para ulama sepakat bahwa hal tersebut tidak pernah ditetapkan dalam syariat, berbeda dengan zakat yang mengenal istilah nishab dan kadar.
Sumber: Buku Optimalkan Ibadah Qurban Anda karya Iskandar Zulkarnaen